Minggu, 10 Agustus 2008

Tambun yang Kusayang....

Siapa yang rumahnya di Tambun Bekasi atau minimal pernah tinggal di Tambun? Bila iya, maka pasti akan mengalami hal-hal yang aku alami berikut ini :
  1. Bangun pagi sekali di hari kerja biar tidak macet di jalanan dan terlambat masuk kerja. Benar, itu rutinitas yang harus dilakukan. Jam 4 pagi, aku udah harus bangun dan mandi. Setelah sholat shubuh, paling tidak jam 5:15 harus sudah keluar dari rumah, karena kalau tidak pasti akan macet di jalan. Titik macet di Tambun terparah adalah pintu perlintasan kereta api di Stasiun Tambun dan Pasar Tambun. Penyebabnya, selain jalan di dekat pintu itu rusak parah, supir angkot di Tambun itu-kata orang Betawi-tambeng-tambeng. Susah dibilangin. Udah tahu macet masih aja pada ngetem. Oleh karena itu hindari Pasar Tambun dan pintu perlintasan kereta api stasiun tambun pada pagi hari saat orang berangkat kerja (antara pkl. 05:00 s/d 07:00 WIB) dan pulang kerja (17:00 s/d 19:00). Di waktu-waktu itu, tempat itu bagai neraka. Tapi bagi orang yang melatih kesabaran menjelang bulan puasa, bolehlah lewat sana.
  2. Sudah gitu di jalan tol Cikampek, kalau pas hari Senin dan Jum'at mendadak jadi macet nggak karuan. Kadang sampai berpikir, apa sebagian orang kerjanya hari Senin dan Jum'at aja...?
  3. Pulang kerja, sampai rumah minimal sudah dekat waktu maghrib. Biasanya, pas buka pintu pagar, pas di Musholla mulai mengumandangkan azan.
  4. Kalau mau nekat naik kereta api, dijamin akan susah untuk masuk ke dalam gerbong. Sungguhpun masuk, dijamin badan jadi mandi keringat. Ini karena Stasiun Tambun belum terjangkau dengan KRL. Yang ada cuma KRD. Entah kapan, KRL menyapa warga Tambun dan sekitarnya.

Tetapi dibalik itu semua, tinggal di Tambun itu menyenangkan. Apalagi, rumah ini adalah rumah pertama yang aku beli-eh kredit-dengan penghasilanku sendiri, walau rumah itu sangat minimalis tetapi cukuplah.

Tidak ada komentar: